AREMA Bukan Sekedar Urusan Sepak Bola
Minggu, 14 September 2008 22:06:31 - oleh : admin
Selama
ini dikenal sebagai klub sepak bola yang ber-home base di kota dingin
Malang. Bukan kabar yang mengagetkan jika klub ini hampir tidak bisa
mengikuti kompetisi Liga Indonesia karena tidak punya dana. Problem
dana memang telah mendarah-daging dalam Arema. Uniknya, klub berlogo
singo edan ini selalu dapat mengatasi problem itu, bahkan mempu
berprestasi lumayan bagus. Sekali menjadi juara kompetisi Galatama, dan
dua kali masuk ke babak perempat final Liga Indonesia yang telah
dicatat Arema. Catatan prestasi ini cukup untuk menempatkan Arema salah
satu tim yang disegani di kancah Liga Indonesia.
Namun yang lebih
sering menarik perhatian publik bola nasional dari Arema dalah
polah-tingkah komunitas supporternya yang dikenal dengan sebutan
Aremania. Aremania banyak dipuji sebagai prototipe supporter sepak bola
yang ideal untuk masa depan sepak-bola Indonesia. Mereka mampu
menggabungkan unsur fanatisme terhadap klub kebanggaan dengan
sportivitas terhadap pemain dan suppoter lawan, serta kreativitas dalam
menghidupkan atmosfer pertandingan. "Nonton sepakbola di Malang,
mengingatkan saya akan pertandingan-pertandingan sepak-bola di Eropa,"
begitu komentar pelatih asal Belanda, Henk Wulem yang terkesima oleh
kreativitas Aremania. Pelatih tim Pelita Solo, Danurwindo suatu ketika
juga mengakui, bermain tandang di Malang layaknya bermain di kandang
sendiri. Meskipun penonton di Stadion Gajayana Malang sampai ke tepi
lapangan, mereka tidak menganggu para pemain lawan dan bersikap sangat
ramah. Tim tamu justru sering mendapatkan dukungan penonton ketika tim
tuan rumah bermain mengecewakan. Komunitas supporter Pasopati Solo
mengakui kelahiran mereka banyak terinspirasi oleh Aremania. Militansi
Aremania tak diragukan. Mereka sanggup bernyanyi dan menari sepanjang
pertandingan untuk mendukung tim kesayangannya. Mereka tetap memberi
dukungan walaupun tim Arema mengalami kekalahan. Yang lebih diacungi
jempol banyak pihak, mereka menyanyikan lagu "Padamu negeri" di awal
dan di penghujung pertandingan. Militansi inilah yang membuat banyak
pemain asing, khususnya dari Chili begitu betah tinggal di Malang.
Militansi itu yang membuat para pemain bermain kesetanan dan sanggup
mengalahkan tim-tim yang lebih unggul. Para pemain bahkan begitu loyal
terhadap tim, walaupun mereka tidak digaji setinggi jika mereka
bergabung dengan tim lain. Arema Sebagai Subkultur Namun, Arema
sesungguhnya bukan sekedar sebuah klub sepakbola berikut komunitas
suppoerternya yang sangat fanatik. Lebih dari itu, adalah sebuah
simbol, atau lambang yang menandakan kebanggaan terhadap identitas
sebagai orang asal Malang. Oleh karena itu, sebutan Arema bukan sekedar
melekat pada komunitas sepak bola, namun juga digunakan oleh komunitas
sopir angkutan umum, tukang becak, komunitas tinju dan lain-lain. Dalam
perspektif historis, identitas Arema juga dapat dilihat sebagai bentuk
resistensi terhadap Arek Surabaya. Bukan rahasia lagi jika anak-anak
muda Malang dan anak-anak muda Surabaya sejak dahulu bersaing dalam
banyak hal. Mereka bersaing untuk menjadi warga yang paling superior di
Jawa Timur. Mereka bersaing untuk menunjukkan siapakah yang paling
layak untuk menyandang predikat "Arek". Arek Malang menolak anggapan
bahwa mereka adalah "warga kelas dua" di Jawa Timur, di bawah Arek
Surabaya yang menghuni kota yang lebih besar dan metropolis. Arek
Malang selalu berusaha menciptakan jarak dan "pembeda-pembeda" dengan
Arek Surabaya. Untuk itulah mereka berusaha membangun identitas
tersendiri. Mereka ingin menunjukkan bahwa kiprah Arek Malang tidak
kalah dengan Arek Surabaya. Dalam konteks itulah, kadar permusuhan Arek
Malang terhadap Arek Surabaya begitu mengental dan dalam kasus-kasus
tertentu melebihi permusuhan mereka dengan komunitas yang secara
geografis lebih jauh. Dalam konteks inilah Arema kemudian menjelma
mejadi semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter yang
berbeda dari subkultur Arek -yang secara umum telah identik dengan Arek
Surabaya. Arek Malang membangun reputasinya di antaranya melalui musik
dan olahraga. Sejarah menunjukkan Malang adalah gudangnya
petinju berprestasi seperti : Thomas Americo, Wongso Suseno, Polo
Sugaray, Monod, dan lain-lain. Malang juga melahirkan pesepak bola kenamaan : Bambang
Nurdiansyah, Jamrawi, Singgih Pitono, Aji Santoso, Kuncoro, Maryanto,
Agus Yuwono, Charis Yulianto dan lain-lain. Beberapa dari mereka bukan
asli Malang, namun mereka besar di Malang dan bangga disebut Arek
Malang. Berkaitan dengan usaha untuk melakukan resistensi
itulah kiranya Aremania menunjukkan trend perilaku yang berbeda dengan
supporter sepak bola Surabaya. Beberapa tahun belakangan ini,
citra supporter sepak bola Surabaya benar-benar menurun. Mereka
benar-benar diidentikkan dengan julukan "supporter bonek" dengan berbagai perangai buruknya. Uniknya,
pada saat yang bersamaan citra Aremania semakin membaik. Aremania
semakin populer sebagai supporter yang fanatik, namun kreatif dan
sportif. Dengan kata lain, semakin buruk perilaku supporter
sepak-bola Surabaya, maka akan semakin baik tren perilaku Aremania.
Namun hal ini masih perlu pembuktian lebih jauh. Kita lihat saja nanti,
apakah ketika supporter sepak-bola Surabaya menunjukkan gelagat
membaik, Aremania justu menunjukkan trend sebaliknya. Mudah-mudahan
yang terjadi Arema justru semakin lebih baik lagi. Arema Sebagai Media
Katarsis Di sisi lain, keberadaan Arema dan Aremania juga bermakna
sebagai media katarsis bagi problem-problem sosial yang dihadapi
anak-anak muda Malang. Jika mau jujur, karakteristik anak-anak muda
Malang tidak jauh beda dengan anak-anak muda Surabaya. Mereka menjadi
bagian dari dinamika tradisi kekerasan, premanisme serta gaya hidup
hedonis yang juga berkembang di Malang. Arek Malang dalam sejarahnya
juga mengenal minum-minuman keras, narkoba dan berbagai bentuk aksi
kejahatan. Omong-omong tentang kekerasan, bahkan ada seloroh yang
menyatakan "Tradisi kekerasan di Malang sudah kondang sejak jaman Ken
Arok". Walaupun tidak ada data statistik yang meyakinkan, penulis yakin
kebiasaan-kebiasan buruk Arek Malang itu menurun signifikan sejak
mereka Arema berdiri tahun 1987 dan berhasil menjadi simbol kebanggaan
baru bagi Arek Malang. Arema dapat menjadi muara (yang positip) bagi
Arek-arek Malang untuk menumpahkan segala kesumpekan hidup yang mereka
alami. Arema dapat menjadi media katarsis bagi energi-energi terpendan
dalam tubuh anak-anak muda di Malang. Dalam konteks inilah, fanatisme
terhadap Arema menghasilkan efek-efek positip. Fanatisme itu dapat
mengurangi kebiasaan nge-drug, minuman keras, trek-trekan (balapan
liar) dan kebiasan-kebiasan buruk lain yang lazim dilakukan arek-arek
Malang. Fanatisme itu tidak dibiarkan tumbuh liar, melainkan dikelola
dengan baik melalui pembentukan korwil-korwil Arema berikut berbagai
kegiatan positipnya : pengajian, tahlil bersama, arisan, bakti sosial
dan lain-lain. Memang mustahil untuk memastikan bahwa 10.000 lebih
supporter Arema semuanya sudah berkelakuan baik. Tentu saja ada
satu-dua orang yang masih suka minum-minuman, ngedrug, nyopet ataupun
tindakan kejahatan yang lain. Meskipun demikian, harus diakui Aremania
semakin jauh dari kesan supporter sepak bola yang sangar, anarkhis dan
suka melakukan kekerasan. Berdasarkan realitas-realitas di atas,
terlihat bahwa Arema sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga bagi
masyarakat Malang dan sekitarnya. Eksistensi Arema dan Aremania mampu
menghadirkan sejumlah dampak positip bagi kehidupan sosial masyarakat
Malang pada umumnya.
Namun yang lebih
sering menarik perhatian publik bola nasional dari Arema dalah
polah-tingkah komunitas supporternya yang dikenal dengan sebutan
Aremania. Aremania banyak dipuji sebagai prototipe supporter sepak bola
yang ideal untuk masa depan sepak-bola Indonesia. Mereka mampu
menggabungkan unsur fanatisme terhadap klub kebanggaan dengan
sportivitas terhadap pemain dan suppoter lawan, serta kreativitas dalam
menghidupkan atmosfer pertandingan. "Nonton sepakbola di Malang,
mengingatkan saya akan pertandingan-pertandingan sepak-bola di Eropa,"
begitu komentar pelatih asal Belanda, Henk Wulem yang terkesima oleh
kreativitas Aremania. Pelatih tim Pelita Solo, Danurwindo suatu ketika
juga mengakui, bermain tandang di Malang layaknya bermain di kandang
sendiri. Meskipun penonton di Stadion Gajayana Malang sampai ke tepi
lapangan, mereka tidak menganggu para pemain lawan dan bersikap sangat
ramah. Tim tamu justru sering mendapatkan dukungan penonton ketika tim
tuan rumah bermain mengecewakan. Komunitas supporter Pasopati Solo
mengakui kelahiran mereka banyak terinspirasi oleh Aremania. Militansi
Aremania tak diragukan. Mereka sanggup bernyanyi dan menari sepanjang
pertandingan untuk mendukung tim kesayangannya. Mereka tetap memberi
dukungan walaupun tim Arema mengalami kekalahan. Yang lebih diacungi
jempol banyak pihak, mereka menyanyikan lagu "Padamu negeri" di awal
dan di penghujung pertandingan. Militansi inilah yang membuat banyak
pemain asing, khususnya dari Chili begitu betah tinggal di Malang.
Militansi itu yang membuat para pemain bermain kesetanan dan sanggup
mengalahkan tim-tim yang lebih unggul. Para pemain bahkan begitu loyal
terhadap tim, walaupun mereka tidak digaji setinggi jika mereka
bergabung dengan tim lain. Arema Sebagai Subkultur Namun, Arema
sesungguhnya bukan sekedar sebuah klub sepakbola berikut komunitas
suppoerternya yang sangat fanatik. Lebih dari itu, adalah sebuah
simbol, atau lambang yang menandakan kebanggaan terhadap identitas
sebagai orang asal Malang. Oleh karena itu, sebutan Arema bukan sekedar
melekat pada komunitas sepak bola, namun juga digunakan oleh komunitas
sopir angkutan umum, tukang becak, komunitas tinju dan lain-lain. Dalam
perspektif historis, identitas Arema juga dapat dilihat sebagai bentuk
resistensi terhadap Arek Surabaya. Bukan rahasia lagi jika anak-anak
muda Malang dan anak-anak muda Surabaya sejak dahulu bersaing dalam
banyak hal. Mereka bersaing untuk menjadi warga yang paling superior di
Jawa Timur. Mereka bersaing untuk menunjukkan siapakah yang paling
layak untuk menyandang predikat "Arek". Arek Malang menolak anggapan
bahwa mereka adalah "warga kelas dua" di Jawa Timur, di bawah Arek
Surabaya yang menghuni kota yang lebih besar dan metropolis. Arek
Malang selalu berusaha menciptakan jarak dan "pembeda-pembeda" dengan
Arek Surabaya. Untuk itulah mereka berusaha membangun identitas
tersendiri. Mereka ingin menunjukkan bahwa kiprah Arek Malang tidak
kalah dengan Arek Surabaya. Dalam konteks itulah, kadar permusuhan Arek
Malang terhadap Arek Surabaya begitu mengental dan dalam kasus-kasus
tertentu melebihi permusuhan mereka dengan komunitas yang secara
geografis lebih jauh. Dalam konteks inilah Arema kemudian menjelma
mejadi semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter yang
berbeda dari subkultur Arek -yang secara umum telah identik dengan Arek
Surabaya. Arek Malang membangun reputasinya di antaranya melalui musik
dan olahraga. Sejarah menunjukkan Malang adalah gudangnya
petinju berprestasi seperti : Thomas Americo, Wongso Suseno, Polo
Sugaray, Monod, dan lain-lain. Malang juga melahirkan pesepak bola kenamaan : Bambang
Nurdiansyah, Jamrawi, Singgih Pitono, Aji Santoso, Kuncoro, Maryanto,
Agus Yuwono, Charis Yulianto dan lain-lain. Beberapa dari mereka bukan
asli Malang, namun mereka besar di Malang dan bangga disebut Arek
Malang. Berkaitan dengan usaha untuk melakukan resistensi
itulah kiranya Aremania menunjukkan trend perilaku yang berbeda dengan
supporter sepak bola Surabaya. Beberapa tahun belakangan ini,
citra supporter sepak bola Surabaya benar-benar menurun. Mereka
benar-benar diidentikkan dengan julukan "supporter bonek" dengan berbagai perangai buruknya. Uniknya,
pada saat yang bersamaan citra Aremania semakin membaik. Aremania
semakin populer sebagai supporter yang fanatik, namun kreatif dan
sportif. Dengan kata lain, semakin buruk perilaku supporter
sepak-bola Surabaya, maka akan semakin baik tren perilaku Aremania.
Namun hal ini masih perlu pembuktian lebih jauh. Kita lihat saja nanti,
apakah ketika supporter sepak-bola Surabaya menunjukkan gelagat
membaik, Aremania justu menunjukkan trend sebaliknya. Mudah-mudahan
yang terjadi Arema justru semakin lebih baik lagi. Arema Sebagai Media
Katarsis Di sisi lain, keberadaan Arema dan Aremania juga bermakna
sebagai media katarsis bagi problem-problem sosial yang dihadapi
anak-anak muda Malang. Jika mau jujur, karakteristik anak-anak muda
Malang tidak jauh beda dengan anak-anak muda Surabaya. Mereka menjadi
bagian dari dinamika tradisi kekerasan, premanisme serta gaya hidup
hedonis yang juga berkembang di Malang. Arek Malang dalam sejarahnya
juga mengenal minum-minuman keras, narkoba dan berbagai bentuk aksi
kejahatan. Omong-omong tentang kekerasan, bahkan ada seloroh yang
menyatakan "Tradisi kekerasan di Malang sudah kondang sejak jaman Ken
Arok". Walaupun tidak ada data statistik yang meyakinkan, penulis yakin
kebiasaan-kebiasan buruk Arek Malang itu menurun signifikan sejak
mereka Arema berdiri tahun 1987 dan berhasil menjadi simbol kebanggaan
baru bagi Arek Malang. Arema dapat menjadi muara (yang positip) bagi
Arek-arek Malang untuk menumpahkan segala kesumpekan hidup yang mereka
alami. Arema dapat menjadi media katarsis bagi energi-energi terpendan
dalam tubuh anak-anak muda di Malang. Dalam konteks inilah, fanatisme
terhadap Arema menghasilkan efek-efek positip. Fanatisme itu dapat
mengurangi kebiasaan nge-drug, minuman keras, trek-trekan (balapan
liar) dan kebiasan-kebiasan buruk lain yang lazim dilakukan arek-arek
Malang. Fanatisme itu tidak dibiarkan tumbuh liar, melainkan dikelola
dengan baik melalui pembentukan korwil-korwil Arema berikut berbagai
kegiatan positipnya : pengajian, tahlil bersama, arisan, bakti sosial
dan lain-lain. Memang mustahil untuk memastikan bahwa 10.000 lebih
supporter Arema semuanya sudah berkelakuan baik. Tentu saja ada
satu-dua orang yang masih suka minum-minuman, ngedrug, nyopet ataupun
tindakan kejahatan yang lain. Meskipun demikian, harus diakui Aremania
semakin jauh dari kesan supporter sepak bola yang sangar, anarkhis dan
suka melakukan kekerasan. Berdasarkan realitas-realitas di atas,
terlihat bahwa Arema sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga bagi
masyarakat Malang dan sekitarnya. Eksistensi Arema dan Aremania mampu
menghadirkan sejumlah dampak positip bagi kehidupan sosial masyarakat
Malang pada umumnya. *) Penulis adalah pengamat sepakbola dan staf peneliti ISAI
Salah satu Motivator Terlaris di Indonesia
Salah satu Motivator Terlaris di Indonesia
Sumber : arema@yahoogroup.com (Millis Arema Sak Ndunyo)


kirim ke teman

